Apple Rilis Situs Web Lacak Pergerakan COVID-19 :: Nusantaratv.com

Apple Rilis Situs Web Lacak Pergerakan COVID-19

Data Apple Juga Tidak Menangkap Perjalanan Saat Orang Tidak Menggunakan Maps.
Apple Rilis Situs Web Lacak Pergerakan COVID-19
Ilustrasi. (Wefixit)

Jakarta, Nusantaratv.com - Apple mengatakan akan merilis data yang dapat membantu memberi informasi kepada otoritas kesehatan masyarakat untuk memantau pergerakan orang selama penerapan karantina mandiri yang banyak diterapkan guna memperlambat penyebaran virus corona baru (COVID-19).

Dilansir dari Reuters, Rabu (15/4/2020), data dikumpulkan dengan menghitung jumlah permintaan rute dari Apple Maps, yang diinstal pada perangkat iPhone, dan membandingkannya dengan penggunaan sebelumnya untuk mendeteksi perubahan intensitas orang dalam mengemudi, berjalan atau menggunakan angkutan umum di seluruh dunia.

Apple mengungkapkan bila informasi tersebut diperbarui setiap hari dan dibandingkan dengan tanggal pada pertengahan Januari, sebelum sebagian besar tindakan karantina wilayah banyak diberlakukan di Amerika Serikat (AS).

Dimana lebih dari 90 persen orang AS berada di bawah perintah tetap tinggal di rumah dan karantina wilayah juga sedang berlangsung di negara-negara lain di seluruh dunia. "Data akan dikumpulkan, sehingga data pengguna secara individu tidak akan ditampilkan, dan data tersebut tidak melacak pengguna secara individu atau lokasi mereka," kata Apple.

Informasi tersebut, tersedia di situs web publik www.apple.com/covid19/mobilityyang akan menunjukkan perubahan pergerakan orang untuk kota-kota besar dan 63 negara atau wilayah.

Data menunjukkan, bila di wilayah San Francisco Bay, permintaan untuk petunjuk arah mengemudi pada 12 April 2020 turun 70 persen dibandingkan pada 13 Januari lalu, dan permintaan untuk petunjuk arah transit turun 84 persen. Sedangkan di New York City, permintaan arah mengemudi turun 69 persen dan permintaan transit turun 89 persen.

Otoritas kesehatan masyarakat di California pada 11 April lalu, mengatakan menggunakan data untuk melacak efektivitas perintah karantina wilayah, meskipun mereka tidak menyebut apakah mereka menggunakan data Apple.

Baca Juga: Google Doodle Apresiasi Tenaga Medis Perangi Wabah Virus Corona 

Apple tidak memberikan jumlah absolut permintaan atau jumlah orang tertentu yang bergerak, namun menyatakan data tersebut merupakan persentase dari perbandingan penggunaan pada pertengahan Januari.

Data gabungan membantu melindungi identitas, namun masih mengidentifikasi pola perjalanan, sehingga menghindari beberapa kesalahan sejumlah negara, seperti Korea Selatan, yang dikritik karena pelanggaran privasi, kata Jason Farley, profesor di Sekolah Perawat Universitas Johns Hopkins.

Farley, yang merupakan ahli epidemiologi yang terlatih untuk penyakit menular, mengatakan data dari aplikasi tersebut menawarkan informasi tentang pergerakan saat ini, namun dampaknya pada menjaga jarak sosial serta membuat keputusan kesehatan masyarakat masih belum jelas.

Data Apple lebih terbatas daripada yang disediakan Google untuk otoritas kesehatan. Google hampir dua pekan yang lalu merilis data di lebih dari 131 negara, membandingkan perjalanan dalam beberapa pekan terakhir dengan tempat-tempat wisata, stasiun kereta api dan bus, toko bahan makanan dan tempat kerja, dengan periode lima pekan awal tahun ini.

Untuk beberapa negara, Google menawarkan data dengan tingkat daerah, yang sangat membantu di sejumlah negara, seperti AS, di mana perintah karantina wilayah dikelaurkan oleh pejabat daerah.

Sebaliknya, data Apple, hanya menampilkan data untuk beberapa kota, wilayah, dan negara dan tidak menunjukkan hasil untuk seluruh negara bagian AS, termasuk wilayah tanpa perintah karantina, seperti Dakota Utara dan Selatan.

Data Apple juga tidak menangkap perjalanan saat orang tidak menggunakan Maps. Apple mengatakan pihaknya terus bekerja dengan otoritas kesehatan untuk mengidentifikasi data atau tren apa yang mungkin bisa membantu.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0