Doktor Fisika ITS Teliti Kanker Otak Gunakan Medan Listrik :: Nusantaratv.com

Doktor Fisika ITS Teliti Kanker Otak Gunakan Medan Listrik

Kanker telah menjadi salah satu penyebab kematian nomor dua di dunia
Doktor Fisika ITS Teliti Kanker Otak Gunakan Medan Listrik
Doktor Fisika ITS teliti kanker otak menggunakan medan listrik. (Dok. Humas ITS)

Jakarta, Nusantaratv.com - Anis Nismayanti berhasil melakukan penelitian mengenai terobosan pengembangan teknologi yang memanfaatkan medan listrik sebagai metode pengobatan kanker otak

Penelitian itu berhasil menjadikan Anis sebagai Doktor Ilmu Fisika pertama yang mengangkat topik fisika medik dalam disertasinya di Departemen Fisika, Fakultas Sains, Institut Teknologi Seputuh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, pada Senin (29/7/2019).

Anis dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude setelah digelar sidang terbuka promosi doktor yang dipimpin Hamzah Fansuri, di Ruang Theater B Departemen Fisika ITS. Disertasi Anis berjudul 'Wire Mesh Tomografi untuk Kuantifikasi Distribusi Intensitas Medan Listrik Pada Sistem Perencanaan Terapi Ecct (Electro Capacitive Cancer Therapy) Pada Kanker Otak.'

Dalam sidang itu, Anis mengatakan selama beberapa dekade terakhir, kanker telah menjadi salah satu penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit kardiovaskular. Namun, pengobatan kanker yang sudah ada baik melalui operasi, radioterapi maupun kemoterapi masih belum optimal.

"Karena pengobatan kanker tersebut menimbulkan efek samping negatif dan berdampak sangat kuat terhadap pasien, sehingga dapat menimbulkan komplikasi yang mengakibatkan kesakitan dan kematian," ujar Anis, dilansir situs resmi ITS, Rabu (31/7/2019).

Dijelaskan ibu tiga anak itu, metode pengobatan kanker yang memanfaatkan medan listrik yang dikenal dengan Elecro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) menjadi terobosan baru dalam pengembangan teknologi pengobatan kanker, karena aman dan efektif ketika diterapkan pada kultur sel, model kanker hewan. 

Metode ECCT ini bekerja dengan memberikan medan listrik dengan arus kecil berfrekuensi menengah selama beberapa waktu. "Sehingga dapat menghambat proses pembelahan sel kanker dan menghancurkan sel kanker ketika sel tersebut membelah diri," lanjut wanita kelahiran 1984 itu.

Anis yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah itu, menyebut kunci keberhasilan ECCT adalah perhitungan dan pengukuran distribusi medan listrik secara akurat di daerah tumor atau terapi.

Namun, ungkapnya, sejauh ini masih belum ada metode yang cukup akurat untuk melakukan hal tersebut. "Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan solusi permasalahan tersebut," jelas wanita berhijab itu.

Wire Mesh Tomography, menurut Anis, memiliki fitur yang menonjol untuk mengukur distribusi medan listrik sebagai validasi simulasi numerik di Treatment Planning System (TPS) atau sistem perencanaan terapi ECCT. 

Sehingga sensor ini menjadi pilihan untuk mendapatkan secara presisi dan akurat intensitas medan listrik pada tiap titik persilangan kawat dalam bentuk tomografi dua dimensi dengan menggunakan sebuah fantom, yakni sebuah alat yang menyerupai jaringan tubuh khususnya kepala dengan sel kankernya secara tiga dimensi.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0