Mahasiswa Indonesia Di Jerman Punya Andil Dalam pengolahan tinja :: Nusantaratv.com

Mahasiswa Indonesia Di Jerman Punya Andil Dalam pengolahan tinja

Pengolahan tinja menjadi pupuk organik alternatif dan beberapa manfaat lainnya
Mahasiswa Indonesia Di Jerman Punya Andil Dalam pengolahan tinja
Tinja diolah menjadi pelet./pixabay

Jakarta, Nusantaratv.com - Pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk organik bukan hal baru. Yang paling umum diketahui dan digunakan publik adalah humus dan pupuk kandang dari limbah hewan.

Seiring majunya teknologi, kini limbah manusia atau tinja yang selama ini dihindari karena tentu saja kotor dan baunya menyengat diolah menjadi pupuk organik alternatif. Hebatnya lagi, potensi itu digali oleh Fadli Mustamin, mahasiswa asal Indonesia di Universitas Bonn, Jerman.

Dilansir Deutsche Welle (DW) Indonesia, Fadli tidak melakukan penelitian itu sendirian. Fadli hanya anggota tim berisi gabungan peneliti dari Universitas Bochum (Jerman), Universitas Bonn, dan International Water Management Institute Srilanka.

Mereka mencari manfaat dari campuran lumpur tinja dan sampah organik untuk pupuk organik. Dan kolaborasi mereka dibiayai oleh Kementerian untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ).

Fadli menjelaskan limbah manusia memiliki beragam kandungan, termasuk gas amoniak. Namun, kebutuhan para peneliti untuk membuat pupuk organik bagi pertanian adalah Nitrogen, Fosfor, dan Potassium.

Dan bila sebuah kota dihuni 1 juta jiwa orang, maka manfaat dari limbah manusianya per tahun bisa mencapai 1.200 ton Nitrogen, 170 ton Fosfor, dan 330 ton Potassium.

Dari sana, para peneliti membuat kompos yang terdiri dari 70 persen tinja dan 30 persen sampah organik demi menghasilkan pelet. Adapun proses kompos yang dilakukan di Srilanka menghasilkan panas hingga 71 derajat Celcius untuk membunuh patogen (parasit pemicu penyakit).

Namun, proses ini belum selesai. Pelet yang dibawa ke Universitas Bochum akan diberi bahan tambahan seperti kalium hidroksida untuk mengukur kadar karbondioksidanya.

Untuk mengetahui kadar karbondioksidanya, para peneliti membutuhkan proses inkubasi pelet selama 50 hari. Makin tinggi karbondioksidanya berarti makin aktif pernapasan mikroorganismenya sehingga tanah akan kian subur.

Praktik kimiawi seperti ini pernah ditunjukkan dalam film fiksi The Martian (2015). Ahli biologi Mark Whatney (Matt Damon) yang terdampar di planet Mars punya akal memanfaatkan tinja dirinya dan para kolega untuk dijadikan pupuk menanam kentang.

Adapun ide memanfaatkan limbah manusia juga datang dari tiga mahasiswa Institut Teknologi Massachussett (MIT) di Boston, AS; Andrew Tsang, Hannah Hoffmann, dan Islam Genina. Namun, seperti dipaparkan Americaninno, trio mahasiswa itu ingin memakai tinja manusia sebagai sumber tenaga pembangkit listrik.

Ide mereka yang bernaung di bawah MIT D-Lab ini adalah desain solusi praktis untuk menjawab tantangan kemiskinan global.

Uniknya, mereka melakukannya melalui mesin pengolah sampah (incinerator). Padahal incinerator lebih lazim dipakai untuk membakar limbah industri.

Tsang bercerita, ide itu muncul ketika mereka bertemu dalam kelas sanitasi air dan kebersihan di D-Lab MIT. Mereka pun prihatin melihat praktik di sejumlah negara yang abai pada limbah manusia.

“Penanganan kotoran manusia di beberapa tidak aman tapi sangat umum. Di beberapa negara seperti Guyana, limbah mentah dibuang ke sungai atau lautan tanpa pengolahan,” ujar Tsang.

Genina menambahkan hal itu juga umum di Mesir sehingga ikan di perairan negara Timur Tengah itu tidak layak dikonsumsi manusia. Sementara di sejumlah negara, limbah hewan sudah diolah menjadi sumber energi terbarukan seperti biogas.

Hal itu antara lain dilakukan Brasil, Tiongkok, dan India. Biogas digunakan kalangan sektor industri dan transportasi.

Di sisi lain, kemajuan ilmu pengetahuan dalam diskursus pengolahan limbah manusia justru membuka peluang bisnis. Ditulis Greenbiz, wirausahawan sosial dan pemerintah pun bisa memetik dua hasil; sumber penghasilan serta solusi masalah sosial dan lingkungan.

Di negara berkembang, limbah cukup umum dibuang ke lingkungan yang dapat mencemari air minum. Sebagian negara lain seperti di Indonesia, tempat pembuangan akhir adalah tangki bawah tanah (septic tank). (beritagar.id)

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0