Facebook Temukan Buzzer Palsu Terkait Papua Barat, Gelontorkan Dana Hingga Miliaran :: Nusantaratv.com

Facebook Temukan Buzzer Palsu Terkait Papua Barat, Gelontorkan Dana Hingga Miliaran

Dalam penelusuran Facebook, terjaring ratusan akun baik dari Facebook dan Instagram.
Facebook Temukan Buzzer Palsu Terkait Papua Barat, Gelontorkan Dana Hingga Miliaran
Ilustrasi Facebook. (Liputan6)

Jakarta, Nusantaratv.com - Facebook melalui tim keamanan sibernya kembali menemukan ratusan akun palsu yang diduga digunakan sebagai buzzer untuk mengangkat isu Papua Barat.

Tak tanggung-tanggung, guna mendanai para buzzer ini, mereka rela menggelontorkan dana hingga mencapai 300 dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp4,2 miliar hanya untuk di platform Facebook.

"Orang-orang di belakang jaringan ini menggunakan akun palsu untuk mengelola Facebook Pages, menyebarkan konten mereka dan mengarahkan orang ke situs di luar platform," tulis Head of Cybersecurity Policy Facebook, Nathaniel Gleicher dalam laporannya.

"Mereka terutama memposting dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tentang Papua Barat dengan beberapa halaman berbagi konten untuk mendukung gerakan kemerdekaan, sementara yang lain memposting kritik terhadapnya," sambungnya.

Baca Juga: Istana Bantah Pakai Buzzer Buat Bela Jokowi

Dalam penelusuran Facebook, terjaring ratusan akun baik dari Facebook dan Instagram. "Ada total 145 akun, yakni 69 akun Facebook, 42 Facebook Pages, dan 34 ajun Instagram," tambahnya.

Nathaniel juga mengungkap terdapat sekitar 410 ribu orang yang mengikuti akun Facebook, dan sekitar 120 ribu mengikuti akun Instagram. Sedangkan dana yang digelontorkan untuk memberikan dukungan upaya separatisme di Papua Barat tersebut berjumlah fantastis.

"Koordinator aksi ini menghabiskan total USD300 atau Rp4,2 miliar hanya untuk di platform Facebook saja," tutur Gleicher.

Selain di Indonesia, Facebook turut menghapus jaringan akun palsu yang ditemukan di beberapa negara lain, yakni Uni Emirat Arab, Nigeria, dan Mesir. Jumlah akun dan laman palsu yang dihapus juga mencapai ratusan.

"Kampanye-kampanye akun palsu (di Uni Emirat Arab, Nigeria, Mesir, dan Indonesia) ini tidak saling terkait. Tapi masing-masingnya membuat jejaring akun palsu untuk menyesatkan pengguna lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan," tukas Gleicher.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0