Konten Negatif dan Berbahaya di YouTube, CEO Google: Tak Bisa Diperbaiki Total :: Nusantaratv.com

Konten Negatif dan Berbahaya di YouTube, CEO Google: Tak Bisa Diperbaiki Total

Konten negatif dan berbahaya tak bisa 100 persen diperbaiki
Konten Negatif dan Berbahaya di YouTube, CEO Google: Tak Bisa Diperbaiki Total
Ilustrasi. (nintendo.co.uk)

Jakarta, Nusantaratv.com - Media sosial (medsos) berpengaruh baik sekaligus buruk secara bersamaan. Konten negatif dan berbahaya kerap berseliweran. Hal itu pula yang terjadi pada YouTube.

CEO Google Sundar Pichai menyebut bila konten negatif dan berbahaya tidak akan bisa 100 persen diperbaiki. Terlebih, dengan besarnya situs berbagi video itu.

Kendati sudah berusaha disaring, namun video konspirasi, kekerasan, rasis ataupun hoax masih sulit dihapus dari konten YouTube. Tapi Pichai menegaskan pihaknya sudah berusaha maksimal mengatasi masalah tersebut. 

"Kami menjadi jauh lebih baik (menyaring) menggunakan kombinasi mesin dan manusia. Katakanlah kami sudah tepat 99 persen, kalian masih akan menemukan contoh-contoh (yang tidak baik). Tujuan kami adalah sangat meminimalisirnya sampai di bawah 1 persen," ujar Pichai, Rabu (19/6/2019).

Dijelaskannya, Google mungkin tak akan bisa 100 persen menghilangkan konten negatif dan berbahaya itu. "Untuk apapun sistem dalam skala besar, hal itu berat. Pikirkan sistem kartu kredit, tetap ada beberapa penipuan," tambahnya.

Namun, Pichai menyatakan pihaknya akan melakukan perkembangan yang signifikan dalam menangkal serta menghapus konten negatif di YouTube. 

Di sisi lain, Pichai menolak saran bahwa pemerintah akan lebih baik dalam menyelesaikan masalah di website semacam YouTube dan anggapan memecah perusahaan teknologi berujung hal positif. 

"Skala besar menawarkan beberapa manfaat, penting untuk memahami itu. Perusahaan-perusahaan besar adalah yang berinvestasi paling banyak di teknologi seperti kecerdasan buatan," cetusnya.

Selain itu, jika perusahaan Amerika Serikat (AS) dipecah, akan membuka peluang bagi negara lain untuk mengejar ketertinggalan.

"Ada beberapa negara di seluruh dunia yang ingin jadi Silicon Valley berikutnya dan mereka mendukung perusahaan-perusahaannya," tutup Pichai.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0