Pantau Pasien COVID-19 Tetap di Rumah, AS Pertimbangkan Penggunaan Teknologi Gelang Tahanan :: Nusantaratv.com

Pantau Pasien COVID-19 Tetap di Rumah, AS Pertimbangkan Penggunaan Teknologi Gelang Tahanan

Teknologi Itu Telah Digunakan Secara Sporadis untuk Penegakan Karantina Amerika Serikat Selama Beberapa Pekan Terakhir.
Pantau Pasien COVID-19 Tetap di Rumah, AS Pertimbangkan Penggunaan Teknologi Gelang Tahanan
AS pertimbangkan penggunaan teknologi gelang tahanan. (Reuters)

Jakarta, Nusantaratv.com - Bagaimana Anda memastikan pasien positif virus corona (COVID-19) tetap di rumah? Nah! Beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan menggunakan teknologi gelang tahanan.

Dikutip dari Reuters, Jumat (8/5/2020), beberapa pejabat negara mempertimbangkan apakah teknologi pemantauan tahanan rumah, termasuk gelang pelacak atau aplikasi pelacakan lokasi dapat digunakan untuk karantina yang diberlakukan pada pembawa virus corona.

Sementara teknologi itu telah digunakan secara sporadis untuk penegakan karantina AS selama beberapa pekan terakhir. Peluncuran skala besar sejauh ini tertahan oleh pertanyaan hukum: Dapatkah pejabat memaksakan pemantauan elektronik tanpa pelanggaran atau perintah pengadilan?

Salah satu contohnya di Hawaii, yang mempertimbangkan penggunaan gelang kaki atau aplikasi pelacakan smartphone yang mendukung GPS untuk menegakkan imbauan tinggal di rumah yang diberikan kepada penumpang udara yang tiba.

Baca Juga: Perangi Virus Corona, Kominfo Tebar 1.000 Mesin Pintar

Ronald Kouchi, Presiden Senat Negara Bagian Hawaii, mengatakan para pejabat Hawaii prihatin banyak pelancong mengabaikan aturan karantina negara selama 14 hari, membuat penduduk kepulauan itu dalam bahaya. Tapi, dia mengungkapkan rencana pelacakan massal para pelancong yang datang diilhami teknologi serupa yang diterapkan Korea Selatan. 

Amerika adalah Amerika. Ada hak dan kebebasan tertentu - kata Kouchi.

Menanggapi pertanyaan tertulis ke kantor jaksa agung, Pusat Informasi Gabungan COVID-19 Hawaii mengatakan, berbagai ide yang sedang dievaluasi untuk melacak mereka yang berada di bawah karantina wajib dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Gagasan serupa telah dijalankan di beberapa negara bagian lain, kendai dalam skala yang jauh lebih kecil. Tujuh orang yang melanggar peraturan karantina di Louisville, Kentucky diperintahkan pengadilan untuk mengenakan alat pelacak GPS yang diproduksi Sistem SCRAM yang berbasis di Colorado.

Sementara itu, Amy Hess, Kepala Pelayanan Publik Kota, menyebut meskipun dirinya lebih suka tidak harus menggunakan perangkat sama sekali, hukum negara mengizinkan pengenaan kurungan rumah untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Kami tidak ingin mengambil kebebasan orang, tetapi pada saat yang sama kami memiliki pandemi - jelasnya.
 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0