Digitisasi Arsip Audiovisual Tingkatkan Produk Kreatif :: Nusantaratv.com

Digitisasi Arsip Audiovisual Tingkatkan Produk Kreatif

Bekraf menggelar workshop yang bertujuan untuk melakukan transfer teknologi digitisasi aset audiovisual dari Perancis ke Indonesia.
Digitisasi Arsip Audiovisual Tingkatkan Produk Kreatif
Workshop Digitisasi dan Monetisasi Arsip Audiovisual di Solo/ Bekraf

Solo, Nusantaratv.com - Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bekerja sama dengan Percetakan Negara Republik Indonesia dan Centre national du cinéma et de l'image animée (CNC) Perancis menyelenggarakan Workshop Digitisasi dan Monetisasi Arsip Audiovisual di Solo pada 25-28 September 2019. 

Workshop tersebut bertujuan untuk melakukan transfer teknologi digitisasi aset audiovisual dari Perancis ke Indonesia. Di samping menghemat ruang penyimpanan, digitisasi juga memungkinkan kelestarian aset audiovisual lebih terjaga. Di samping itu, para instruktur dari Institut National de l'audiovisuel (INA) Perancis akan menularkan ilmu untuk memonetisasi aset-aset tersebut dengan memanfaatkan kepemilikan intelektualnya (Intelectual Property).

"Kita harus dapat melestarikan aset audiovisual yang kita miliki secara optimal. Lebih dari itu, kita juga harus dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui monetisasi dengan memanfaatkan kepemilikan intelektualnya," kata Wakil Kepala BEKRAF Ricky Pesik pada Rabu (25/9/2019).

Workshop ini merupakan tindak lanjut penandatanganan kerja sama antara BEKRAF dengan CNC yang ditandatangani pada Mei 2017 mengenai pengembangan subsektor film dan audiovisual.

Baca Juga: Bekraf Festival 2019 Digelar di Surakarta

Menurut Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu Sulistianti, digitisasi merupakan salah satu faktor pendorong pesatnya perkembangan industri kreatif. Melalui digitisasi produk kreatif dapat dikomersialisasi secara optimal dengan memanfaatkan kekayaan intelektualnya. 

"Indonesia memiliki koleksi arsip audiovisual, khususnya musik, yang kaya, namun belum terkelola secara maksimal. Padahal arsip-arsip ini memiliki nilai ekonomi yang dapat dilipatgandakan dengan berbagai metode," ungkap Endah.

Sementara itu, Global Music Report IFPI menilai bahwa seluruh pendapatan industri musik global berasal dari penjualan fisik dan hak pertunjukan. Pada 2018, penjualan fisik hanya memberikan kontribusi 25%, sementara streaming audio berlangganan menyumbang 47% dari pendapatan.

Sedangkan di sisi lain, saat ini terdapat dana sekitar Rp 2 triliun yang dihasilkan dari pelaku ekonomi kreatif khususnya subsektor musik yang memasarkan karyanya secara digital. Sayangnya, porsi pajak dari dana sebesar itu belum dapat mengalir ke kas negara, karena status pelaku ekonomi kreatif tersebut yang independen tanpa label.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0