Dukung Pengembangan Baterai Litium, Mahasiswa UNS Kembangkan Material Katoda LiNMC :: Nusantaratv.com

Dukung Pengembangan Baterai Litium, Mahasiswa UNS Kembangkan Material Katoda LiNMC

Baterai litium memiliki kapasitas energi yang besar dan masa pakai yang panjang
Dukung Pengembangan Baterai Litium, Mahasiswa UNS Kembangkan Material Katoda LiNMC
Mahasiswa UNS kembangkan material katoda LiNMC dalam pembuatan baterai litium. (Dok. Humas UNS)

Jakarta, Nusantaratv.com - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), melakukan inovasi dalam pengembangan material katoda LiNMC sebagai material utama pembuatan baterai litium.

Yakni Khikmah Nur Rikhy Stulasti, Refarmita Nur Halimah, dan Luthfiatul Azizah Aini, dari Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) UNS Surakarta.

Dijelaskan baterai jenis litium memiliki banyak keunggulan seperti kapasitas energi yang besar, umur pakai yang panjang, dan stabilitas yang tinggi. Namun, hal itu ditentukan oleh jenis dan kualitas dari material katoda. Katoda merupakan komponen utama dari baterai litium.

Saat ini dunia tengah mengembangkan salah satu jenis material katoda. Jenis material katoda yang sedang dikembangkan tersebut adalah LiNMC (Lithium Nickel Mangan Cobalt). Namun sangat disayangkan, sebab hingga saat ini Indonesia masih mengimpor material katoda LiNMC ini.

"Proyek ini kami kembangkan guna mendukung pengembangan baterai litium di Indonesia," ujar Khikmah, dilansir situs resmi UNS, Jumat (26/7/2019). 

Menurutnya, dengan adanya inovasi dalam pengembangan material katoda ini dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat memproduksi baterai litium ion (Li-Ion) di dalam negeri.

Bila itu terwujud, pastinya akan memberikan banyak kontribusi dalam hal pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Baterai Li-Ion yang dibuat dari pokok material tersebut, diharapkan dapat mengikuti tren teknologi yang sudah banyak dikembangkan oleh berbagai negara di dunia, seperti China, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat. Selain itu, di benua Eropa juga turut mengikuti tren teknologi yang satu ini.

"Selain itu, Indonesia juga kaya akan bahan tambang Nikel. Sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut menjadi bahan yang bernilai ekonomi tinggi yang salah satunya menjadi material katoda LiNMC," timpal Refarmita.

Berdasarkan kekayaan alamnya, hingga saat ini Indonesia dikenal sebagai negara ekspor nikel. Menurut data dari INSG pada 2013, menunjukkan bahwa produksi nikel dunia paling banyak diserap oleh Tiongkok (51%) dan Eropa (19.5%). 

Oleh karena itu, dengan adanya pemanfaatan logam nikel sebagai katoda ini dapat mengupayakan peningkatan perekonomian domestik.

"Kami berharap dapat membantu pemerintah dalam pengembangan teknologi pengolahan bahan tambang melalui teknologi yang sedang kami kembangkan ini," tambah Luthfiatul.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0