Empat Perguruan Tinggi Ternama di Indonesia Berkolaborasi, Ciptakan Scanner Kanker Servik :: Nusantaratv.com

Empat Perguruan Tinggi Ternama di Indonesia Berkolaborasi, Ciptakan Scanner Kanker Servik

Dokter membutuhkan scanner yang dapat mendeteksi kanker servik
Empat Perguruan Tinggi Ternama di Indonesia Berkolaborasi, Ciptakan Scanner Kanker Servik
Ilustrasi. (idntimes.com)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kanker serviks merupakan salah satu penyakit berbahaya yang menyerang kaum wanita. Pemerintahan menganjurkan untuk rajin melakukan tes pap smear pada semua perempuan Indonesia secara rutin. 

Dengan memiliki gambaran yang kompleks, dokter membutuhkan scanner yang dapat mendeteksi sekaligus mengidentifikasi. Untuk itu, dosen Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Riries R, bersama tim yakni Winarno, Osmalina Nur Rahma, Anny Setijo R, dari Departmen Patologi Anatomik, FK UNAIR yang berafiliasi di SMF RSUD Dr Soetomo, Laboratorium Patologi Anatomik RS Universitas Airlangga dan Etty Hary Kusumastuti.

Mereka berkolaborasi dengan Kuwat Triyana (Universitas Gadjah Mada/Yogyakarta), Andriyan Bayu S (Institut Teknologi Bandung) dan Imas Sukaesih (Institut Pertanian Bogor) membuat suatu inovasi yaitu Digital Pathology Virtual Microscope (DPVM) untuk skrining citra pap smear kanker serviks. 

Penelitian tersebut akan menghasilkan alat berupa hardware dan software. Tidak hanya untuk membantu mendeteksi pasien tetapi juga untuk alat pembelajaran dokter muda.

"Alatnya sudah ada mikroskop portable tapi di improve lebih spesifik untuk kanker servik," ujar Riries yang juga dosen Fisika UNAIR itu, dikutip nusantaratv dari situs resmi Universitas Airlangga, Jumat (28/6/2019).

Penelitian yang memanfaatkan engineering dan image processing itu akan menampilkan hasil akhir keseluruhan gambar dengan dapat menampilkan secara detail saat diperbesar. 

Adapun penelitian tersebut tidak hanya sebagai scanning dan identifikasi tetapi juga sebagai data repository. Dengan adanya data repository bisa sebagai digital record riwayat kesehatan pasien dan bisa memberikan pelayanan terbaik untuk pasien.

"Nanti juga bisa data repository, selama ini data preparat disimpan saja nanti berjamur sewaktu-waktu data tersebut diminta Dinkes (Dinas kesehatan)," tambahnya.

Penelitian yang masih berjalan tersebut, menurut Riries yang Ketua Tim, mengharapkan dapat bermanfaat terutama pada faskes kesehatan yang rendah untuk bisa mengakses. Dengan itu, faskes rendah seperti Puskesmas dapat mengonsultasikan dengan dokter yang di pusat dengan konsep IoT (Internet Of Thinking).

"Faskes-faskes rendah bisa mengakses, nanti dikirim ke dokter yang di pusat nanti bisa melalui telpon atau internet," ungkapnya.

Sebagai informasi, Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) adalah program Dikti yang bertujuan mendorong para dosen di seluruh Indonesia melakukan publikasi demi mencapai World Class University. Penelitian tersebut merupakan gelombang pertama yang diikuti dari empat universitas yakni, UNAIR, ITB, IPB dan UGM.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0