Green Laundry, Inovasi Atasi Pencemaran Limbah Laundry :: Nusantaratv.com

Green Laundry, Inovasi Atasi Pencemaran Limbah Laundry

Limbah laundry menjadi limbah yang aman dan layak buang
Green Laundry, Inovasi Atasi Pencemaran Limbah Laundry
Alvin tengah mengoperasikan alat strograph VG10E. (its,ac.id)

Surabaya, Nusantaratv.com - Kini laundry menjadi salah satu usaha rumahan yang sering kali dilakukan banyak kalangan untuk meningkatkan ekonomi.

Namun, di sisi lain, usaha laundry juga menimbulkan masalah pencemaran lingkungan, karena pelaku usaha seringkali mengalirkan limbahnya secara langsung ke saluran air atau sungai.

Mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), menyulap limbah laundry menjadi limbah yang aman dan layak buang. Mereka adalah Alvin Romadhoni Putra Hidayat, Ahnaf, dan Vina Rizky Andina.

Alvin, Ketua Tim, mengatakan limbah laundry memiliki kandungan zat kimia yaitu surfaktan dan senyawa fosfat yang tinggi. Kedua zat ini berfungsi sebagai pengikat kotoran yang menempel pada pakaian.

Menurutnya, ketika dibuang ke lingkungan air akan mengakibatkan pengurangan kadar oksigen dalam air. "Hal itu dapat mengancam keberlangsungan hidup biota air," ujar Alvin, dikutip nusantaratv dari situs resmi ITS, Senin (8/7/2019).

Untuk itu, Alvin dan kolega menciptakan ide Green Laundry. Mereka berhasil merampungkan material pengolahan limbah cucian tersebut berupa membran atau selaput tipis selama dua bulan.

Adapun membran ini tersusun dari senyawa kimia titanium oksida yang di-doping dengan nitrogen yang berasal dari urea. Menurut Alvin, alasan dipilihnya urea karena tidak menimbulkan masalah limbah baru dalam proses pengolahan.

"Proses doping digunakan untuk mempengaruhi karakter material, sehingga lebih efektif dalam melakukan penyaringan," lanjutnya.

Ditambahkan Alvin, aktivitas membran tersebut masih belum optimal ketika dilakukan pengujian, sehingga ditambahkan senyawa kimia polimer yaitu polietilena glikol dan poliester sulfon.

"Berdasarkan studi literatur, kedua polimer ini membantu meningkatkan aktivitas penyaringan pada membrane," terangnya.

Dipaparkan Alvin, cara kerja membran ini cukup sederhana, di mana surfaktan dan senyawa fosfat yang terkandung dalam limbah ditahan oleh membran tersebut karena ukuran pori yang sangat kecil.

"Di sinilah terjadi proses penyaringan, sehingga air limbah menjadi jernih, aman, dan layak dibuang," jelasnya.

Hal itu bukan tanpa alasan. Alvin mengungkapkan hasil penyaringan air limbah laundry tersebut dianalisis menggunakan alat refluks dan winkler dan terjadi penuruan kadar Kebutuhan Oksigen Kimia (COD) dan Kebutuhan Oksigen Hayati (BOD) sebesar 85 persen dan 83 persen.

Secara sederhana, semakin tinggi kadar COD dan BOD, maka semakin tinggi reaksi kimia dan bakteri menghabiskan oksigen di dalam air untuk menguraikan air limbah. "Banyaknya oksigen yang dihabiskan mengakibatkan kadar oksigen dalam air semakin sedikit," tutur mahasiswa kelahiran 1998 ini.

Inovasi yang dikembangkan tim dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini, diharapkan bisa lolos untuk ditunjukkan sebagai bentuk karya penelitian pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 pada Agustus mendatang.

"Kami sangat bangga ketika kami berhasil menjadi perwakilan ITS serta mendapatkan medali emas kelak," tukas mahasiswa asal Surabaya, Jatim itu.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0