Inovasi Pendeteksi Tsunami Berbasis Sensor Ultrasonik Karya Mahasiswa UNAIR Surabaya :: Nusantaratv.com

Inovasi Pendeteksi Tsunami Berbasis Sensor Ultrasonik Karya Mahasiswa UNAIR Surabaya

Terdapat 22 alat pendeteksi tsunami yang dimiliki Indonesia
Inovasi Pendeteksi Tsunami Berbasis Sensor Ultrasonik Karya Mahasiswa UNAIR Surabaya
Dampak dari bencana gempa dan tsunami. (kompas.com)

Jakarta, Nusantaratv.com - Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terjadi gempa bumi. Tak hanya itu, sebagai negara maritim, Indonesia juga sangat berpotensi mengalami tsunami akibat gempa bumi.

Tercatat, telah terjadi 7 kali bencana tsunami di Indonesia sejak 2004. Dan, banyak korban jiwa karena keganasan alam itu.

Di era globalisasi seperti saat ini, teknologi sangat dibutuhkan dalam menunjang kehidupan. Teknologi peringatan dini tsunami (early warning system) mutlak dibutuhkan untuk langkah mitigasi awal. Termasuk menghindarkan potensi munculnnya korban jiwa yang lebih besar.

Berdasarkan data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) 2018, saat ini terdapat sebanyak 22 alat pendeteksi tsunami yang dimiliki Indonesia. 

Sayangnya, semuanya sudah tidak lagi berfungsi sejak 2012. Harganya yang mahal serta biaya pemelihara dan operasi yang tinggi menjadi alasan utama.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), yakni Muhammad Fajar Faliasthiunus Pradipta (Fisika 2017), Muhamad Rizaldi Bin Nuryasin (Fisika 2017), dan Virgilius Rivan Seran (Fisika 2015), menggagas sebuah inovasi.

Yaitu berupa teknologi deteksi tsunami dini berbasis sensor ultrasonik yang mendeteksi perubahan permukaan gelombang air laut.

Kreativitas mahasiswa itu dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) untuk tahun 2019 dengan judul 'SAVETOR (Tsunami Wave Detector): Detektor Tsunami Berbasis Perubahan Gelombang Air Laut'. 

Mereka bersyukur bahwa proposal tersebut lolos seleksi Dikti. Dan tim mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2019.

Prinsip kerja Savetor adalah dengan mendeteksi gelombang air laut menggunakan sensor ultrasonik yang dihubungkan dengan mikrokontoller arduino. Nantinya, alat dipasangkan di pesisir.

Gelombang laut surut pada umumnya membutuhkan waktu normal 7 jam untuk kedalaman 2 meter. Jika dalam keadaan tersebut, waktu surutnya hanya kurang dari 15 menit berarti merupakan tanda awal tsunami. 

Saat itu sensor ultrasonik pada alat akan memberikan peringatan tsunami berupa sinyal tanda peringatan tsunami kepada penduduk.

"Kami berusaha memanfaatkan salah satu ciri tsunami, yaitu perubahan gelombang air laut untuk dipakai sebagai alat peringatan dini tsunami," ujar Fajar sebagai ketua tim yang dikutip nusantaratv dari situs resmi UNAIR, Rabu (26/6/2019).

Teknologi ini sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia. Sebab, pengaplikasiannya sangat mudah, begitu juga perawatannya. Dari sisi harga, inovasi itu tergolong murah dan biaya operasional yang kecil.

Alat tersebut diharapkan dapat memberikan sistem peringatan dini tsunami yang akurat. Terutama dapat meminimalkan korban jiwa akibat tsunami.

"Pada saat ini, inovasi ini sangat cocok untuk diterapkan. Mengingat upaya pemerintah dalam menindaklanjuti upaya pemerintah dalam mitigasi bencana dan meminimalisir korban jiwa yang timbul akibat bencana tsunami. Selain itu, sangat murah jika dibandingkan dengan teknologi yang lain,” lanjutnya.

"Semoga alat inovasinya ini bisa diterapkan untuk kepentingan di masyarakat," tambah Fajar.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0