Kemkominfo: Digitalisasi Tak Hanya untuk Chatting, Tapi Pemberdayaan dan Sosialisasi :: Nusantaratv.com

Kemkominfo: Digitalisasi Tak Hanya untuk Chatting, Tapi Pemberdayaan dan Sosialisasi

Kemkominfo juga membuat digital talent untuk mengakselerasi perkembangan digital yang begitu cepat
Kemkominfo: Digitalisasi Tak Hanya untuk Chatting, Tapi Pemberdayaan dan Sosialisasi
Kemkominfo membentuk komunitas siber. (Dok. Humas Kominfo)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) membentuk komunitas siber. Langkah ini sebagai upaya membumikan program digitalisasi di kalangan masyarakat.

Hal itu dikatakan Rosarita Niken Widiastuti, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemkominfo, di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

"Sehingga ke depan, digitalisasi internet tidak hanya untuk chatting dan media sosial semata. Tapi juga untuk pemberdayaan dan sosialisasi program. Pada level tertentu, Kemkominfo telah melakukan yang berstandar internasional," ujar Niken.

Menurutnya, Kemkominfo juga membuat digital talent untuk mengakselerasi perkembangan digital yang begitu cepat. Hal itu dilakukan karena fakta di lapangan masih adanya gap antara lulusan industri. Di perguruan tinggi, perubahan kurikulum membutuhkan waktu yang lama.

Demi menjawab kebutuhan itu, Niken menjelaskan bahwa Kementerian Kominfo bekerjasama dengan perusahaan internasional melakukan ToT (training of trainer) untuk para dosen di perguruan tinggi negeri.

"Kita bekerja sama dengan 30 perguruan tinggi negeri dan 28 swasta, berstandar internsional. Beasiswa sudah berjalan selama tiga bulan, dan 25 ribu orang yang kemudian lolos masuk ke tahap berikutnhya. Isi programnya di antaranya big data, cyber security, dan lainya," tambahnya.

Apakah ada aparat sipil negara (ASN) yang bisa mengikuti pelatihan ini? Niken menjawab bisa. Pelatihan ini terbuka untuk umum. Ada beberapa level, seperti siswa SMK, guru-guru, online, dan untuk masyarakat yang sudah ekspert. Digital skill Kemkominfo menyiapkan beasiswa di luar negeri, baik S2 maupun S3.

"Untuk tahun ini, khusus beasiswa ini dikirim ke China dan India. Kita kirim ASN kesana. Kami juga menyelenggarakan leadership akademi. Ini merupakan akademik untuk semuanya. Kami melakukan kompetensi masing-masing ASN untuk menciptakan aplikasi-aplikasi yang memudahkan pegawai ekosistem untuk pelayanan prima," tuturnya.

Contohnya, ia mengungkapkan, ada seorang staf yang 4 tahun bekerja bisa menciptakan e-klinik. Dari masuk pendaftaran dan memberikan obat bisa dilakukan di satu tempat.

Dengan e-klinik orang tidak perlu antri. Tinggal buka aplikasi dan sampaikan keluhannya. Sehingga, orang tidak perlu antri lagi. Dia cukup datang saat antriannya sudah terdeteksi.

"Selain itu, ada juga eselon 4 yang menciptkan aplikasi kenaikan pangkat dan pensiun. Eselon 4 ini menciptakan tanda tangan digital. Dengan tanda tangan digital, sekali klik bisa langsung tanda tangan ratusan dokumen. Tanda tangan ini juga dihubungkan dengan OJK. Ini juga tanda tangan yang terverifikasi. Inilah digital talent yang dilakukan oleh karyawan kominfo," sebut Niken.

Selain itu, ia menambahkan, pihaknya juga membuat aplikasi stunting. Untuk mengetes anak terkena gizi buruk atau tidak. Banyak aplikasi yang diciptakan oleh ASN itu sendiri. ASN berlomba dalam menciptakan aplikasi. Tahun depan, Kemkominfo akan membuka 50.000 talent schoolarship.

"Ada alokasi untuk ASN di dalam digitalisasi ini. ASN yang level mana. Pelatihan apa yang diperlukan untuk ASN di kementerian atau daerah," tukas Niken.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0