Mahasiswa IPB Manfaatkan Hidrolisat Protein Maggot untuk Antidiabetes :: Nusantaratv.com

Mahasiswa IPB Manfaatkan Hidrolisat Protein Maggot untuk Antidiabetes

Maggot sebagai bahan dasar pembuatan sediaan obat antidiabetes
Mahasiswa IPB Manfaatkan Hidrolisat Protein Maggot untuk Antidiabetes
Pengujian aktivitas hipoglikemik pada hewan uji tikus hiperglikemik. (Dok. Humas IPB)

Jakarta, Nusantaratv.com - Penderita diabetes di Indonesia mengalami peningkatan hingga 40 persen setiap tahun. Guna mengurangi jumlah penderita penyakit gula tersebut, diperlukan obat hipoglikemik yang dapat dikonsumsi para penderita tanpa memberikan efek samping.

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) memanfaatkan maggot sebagai sediaan obat antidiabetes dalam bentuk hidrolisat protein. Mereka adalah Imam Ali Alzaini Bychaqi, Muhammad Rifqi Janjani, (Fakultas Kedokteran Hewan/FKH), dan Cepty Rohmawaty (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam/FMIPA).

Maggot adalah belatung dari black soldier flys hermetia illucens yang termasuk keluarga lalat. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), ketiga mahasiswa tersebut meggunakan maggot sebagai bahan dasar pembuatan sediaan obat antidiabetes.

Hal itu berdasarkan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa maggot dinilai memiliki aktivitas antibakteri. 

Imam mengungkapkan penelitian tentang maggot di bidang biomedis masih sangat terbatas. Dan untuk memastikan secara biologis kemampuan hidrolisat maggot bersifat hipoglikemik, Imam dan kolega melakukan pengujian aktivitas hipoglikemik pada hewan uji tikus hiperglikemik.

Dalam pengujiannya, digunakan 35 ekor tikus hiperglikemik yang terbagi menjadi tujuh kelompok. Sebelumnya, kadar gula pada hewan uji diukur terlebih dahulu untuk diketahui kadar gula awal dengan puasa selama 10 jam. Untuk pengujian hidrolisat maggot, dilakukan secara oral glucose tolerance test (OGTT) pada hewan uji.

"Dari pengujian yang sudah dilakukan, dosis 300 miligram/kilogram berat badan tikus yang potensial untuk dijadikan kandidat antidiabetes," terangnya. 

"Meski demikian, pengujian pada tikus hiperglikemik saja belum cukup. Perlu dilakukan uji lanjutan pada tikus yang berstatus diabetes. Uji lanjutan ini perlu karena untuk menegaskan bahwa dosis tersebut positif mampu menurunkan kadar gula darah," tukas Imam.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0