Menag: Main Medsos Jangan Gampang Baper :: Nusantaratv.com

Menag: Main Medsos Jangan Gampang Baper

Bila terlalu baper sangat mudah memancing emosi
Menag: Main Medsos Jangan Gampang Baper
Menag Lukman Hakim Saifuddin bersama para generasi milenial. (kemenag.go.id)

Jakarta, Nusantaratv.com - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Pelatihan Literasi Informasi bertajuk #SaringSebelumSharing, di Jakarta. Hadir dalam kesempatan itu Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.

"Kalau main medsos jangan gampang baper (bawa perasaan). Itu bahaya," ujar Menag dihadapan puluhan generasi milenial yang dikutip nusantaratv dari situs resmi Kemenag, Rabu (26/6/2019).

Menurut menteri berusia 56 tahun itu, bila terlalu baper maka mudah memancing emosi, sehingga dapat melahirkan konflik. Sebab, ungkapnya, poin penting dalam  bermedsos adalah mengendalikan diri.

"Nasihat Rasulullah bahwa inti dasar ajaran Islam adalah mengendalikan hawa nafsu," lanjutnya.

"Kalau saat kita bersosial media melahirkan konflik, sangat bertolak belakang dengan tujuan utamanya yaitu sosialisasi," tambah Menag.

Ia menjelaskan masyarakat masa kini bermain media sosial, baik WhatsApp, Twitter, Facebook dan lainnya, karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia bukanlah makhluk soliter, tidak bisa hidup sendiri. 

Manusia adalah makhluk sosial yang harus terus bersosialisasi dan itu merupakan fitrah manusia. Sebab itu, terang Menag, manusia memerlukan medium untuk memenuhi kebutuhannya dalam bersosialisasi salah satunya lewat media sosial. Saat ini, komunikasi bisa dilakukan tidak hanya face-to-face, tapi juga melalui dunia maya.

Selain sebagai sarana komunikasi, media sosial juga wahana menebar kebajikan. Di dunia maya juga banyak orang pintar. Tak lupa, Menag mengajak generasi milenial menjadikan media sosial sebagai tempat belajar, sekolah kedua.

"Media sosial menjadi sumber ilmu yang luar biasa. Tapi kita juga harus cermat, karena kaitannya dengan informasi yang ada di media sosial juga perlu di klarifikasi," cetus politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

"Informasi hakikatnya ilmu itu sendiri. Jikalau kita mendapat kabar kita harus yakin darimana sumbernya. Ilmu agama itu hakikatnya agama itu sendiri," tegasnya.

Ditambahkan Menag, tradisi khasanah Islam mengajarkan pentingnya persambungan mata rantai keilmuan. Dalam ilmu hadis, dikenal istilah sanad dalam proses transformasi informasi. Sanad berisi rangkaian periwayat hadis yang bisa diteliti validitasnya.

"Ini mengajarkan kita terkait informasi bahwa kita harus kritis. Orang akan semakin bijak melihat keragaman ketika pengetahuannya luas," tukas Menag.

Sementara itu, salah satu peserta pelatihan literasi dari pemuda Persis berharap kegiatan semacam ini akan terus ada.

"Semoga dapat dibentuk wadah generasi milenial agar bisa terus menyuarakan keberagaman, agar dapat memahami keberagaman dalam merajut kebersamaan untuk menjawab tantangan zaman," imbuhnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0